Jatiqojatim.com
Kisah Rasulullah

Kisah Rasulullah (152)

*KISAH RASULULLAH صلى الله عليه وسلم*
Bagian 152
*Rasulullah Bergerak Meninggalkan Mekah Menuju ke Hunain.*
Tanggal enam (6) bulan Syawal tahun kedelapan (8) Hijriah bertepatan dengan hari Sabtu,
Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun bergerak keluar dari Mekah.
Hari itu genap sembilan belas hari Rasulullah memasuki dan berada di Mekah.
Rasulullah bergerak dengan kekuatan sebanyak 12.000 tentara Islam, sepuluh ribu adalah mereka yang berangkat bersama Rasulullah ketika pembukaan Mekah, selebihnya adalah
penduduk Mekah, kebanyakan mereka masih baru menganut agama Islam.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah meminjamkan seratus pasang baju besi dengan kelengkapannya. Sebagai
pemegang kendali tanggung jawab Mekah, Rasulullah menunjuk Utab bin Usaiyed sebagai
amirnya.
Menjelang petang seorang prajurit berkuda telah datang menemui Rasulullah dan berkata:
“Saya telah naik ke bukit itu dan bukit ini, dan saya telah melihat qabilah Hawazin, yang
telah bergerak keluar dengan seisi rumah mereka, wanita-wanitanya, unta-unta dan harta-
hartanya.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم tersenyum mendengar laporan itu sambil berkata:
“Itu adalah harta rampasan untuk kaum muslimin besok”.
In syaa Allah, di malam itu secara sukarela Anas bin Abi Mirthad Ghanuwi telah menawarkan
dirinya untuk mengawal Rasulullah صلى الله عليه وسلم.
Dalam perjalanan mereka ke “Hunain” tentara Islam melihat pohon besar menghijau yang
dikenal dengan sebutan “Zat Anwat”. Sudah menjadi adat orang Arab menggantungkan
peralatan senjata mereka di situ.
Maka kata seorang tentara kepada Rasulullah:
“Wahai Rasulullah, buatkan untuk kita Zat Anwat, seperti mereka juga mempunyai Zat
Anwat. ”
Jawab Rasulullah صلى الله عليه وسلم:
“Allahu Akbar, Maha Besar Allah, mengapa kamu berkata begitu. Demi Allah yang nyawa
Muhammad di tangan-Nya, kata-katamu itu serupa dengan kata-kata kaum Musa di masa
lalu.
Jadikanlah untuk kami tuhan, sebagaimana mereka mempunyai tuhan dan Musa berkata:
Sesungguhnya kamu ini kaum yang jahil, sebetulnya inilah tasyabuh, dan sebenarnya kamu
akan mengikuti jalan-jalan orang yang musyrik jahiliyah terdahulu”.
Ada juga di antara mereka yang berkata congkak, setelah melihat jumlah tentara yang
banyak:
“Di hari ini kita tidak bisa dikalahkan lagi.”
Kata-kata ini tidak disukai oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم.
Tentara Islam diserang
Tibalah Tentara Islam di Hunain pada malam Selasa sepuluh hari terakhir bulan Syawal.
Malik bin Auf telah sampai di Hunain terlebih dahulu, dia telah menyusun taktik tentaranya
di lembah Hunain, dengan meletakkan kelompok penyerang di sepanjang jalan dan pintu
masuk, bahkan di seluruh lereng-lereng bukit Hunain dan lorong-lorongnya, dia memberi
petunjuk agar mereka memanah tentara Islam apabila mereka muncul di situ.
Di penghujung malam Rasulullah صلى الله عليه وسلم menyusun strategi tentaranya, Rasulullah membagi
tentaranya menjadi pasukan-pasukan dan unit-unit, di awal subuh mereka berjalan menuju
ke lembah Hunain.
Ketika tentara Islam turun ke lembah, tiba-tiba mereka dihujani anak panah oleh tentara
Malik yang telah lama menunggu di situ, serentak unit-unit tentara musuh menyerbu
mereka, tentara Islam pun kalang-kabut mundur ke belakang lari tunggang langgang.
Abu Sufyan berkata; “Kekalahan mereka ini tidak akan berhenti, kecuali mereka mundur
hingga pesisir Laut Laut Merah.
Dalam keadaan kelam Kabul Jibillah atau Kildah bin Junaid berteriak: “Hari ini sihir
Muhammad sudah tidak mempan lagi”.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengelak ke sebelah kanan sambil berteriak: “Wahai kalian semua ayo ke sini,
aku adalah Rasulullah صلى الله عليه وسلم ,aku Muhammad Ibni Abdullah”. Yang tetap bersama Rasulullah
dalam keadaan kritis ini hanya beberapa orang dari kaum Muhajirin dan keluarga Rasulullah.
Dalam situasi yang sangat ktitis ini muncullah keberanian Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang tidak ada
bandingnya. Rasulullah tampil ke depan kaum kafirin dengan menyambuk keledainya sambil
berteriak:
“Aku adalah nabi yang benar, tidak berdusta, Akulah putera Abdul Muttalib”
Abu Sufyan bin Harith kemudian memegang tali keledainya dan Abbas pun dengan
kendaraannya, keduanya membantu Rasulullah صلى الله عليه وسلم agar keledai tetap terkendali. Kemudian
Rasulullah صلى الله عليه وسلم turun dari keledai dengan tangan memohon kepada Allah sambil berdoa :
“Ya Allah Ya Tuhanku turunkanlah pertolongan Mu”.
Tentara Islam Maju Kembali Meneruskan Peperangan
Rasulullah صلى الله عليه وسلم meminta pamannya Abbas yang memiliki suara lantang untuk berteriak
kepada semua para sahabat dan tentara Islam yang mundur. Kata Abbas:
“Mana dia para sahabat setia?”
Demi Allah, Ketika mereka mendengar teriakan itu, mereka balik ke depan bagaikan
kembalinya seekor lembu yang marah.
Jawab mereka semua: “Ya Rasulullah, Ya Rasulullah”
Ada juga orang yang mencoba balik menuju Rasulullah dengan untanya, namun ontanya
sudah tidak berdaya karena sesak, maka ditinggalkan saja tunggangan itu, dengan
mengambil pedang, dan perisai, kemudian melesat menuju ke arah teriakan suara”.
Setelah terkumpul seratus orang, kemudian mulailah mereka maju untuk menghadapi
perlawanan musuh dan terjun dalam peperangan dengan semangat bergelora.
Kemudian terdengar teriakan membahana khusus ditujukan kepada golongan Anshor, lebih
khusus lagi kepada golongan Bani Harith bin Khazraj, dengan demikian kelompok-kelompok
Islam mulai tampil ke medan pertempuran lagi, sampai situasi medan pertempuran pulih
kembali.
Kini kedua-dua belah pihak saling menyerang pihak lawannya.
Rasulullah melihat ke arah medan pertempuran, nampak begitu sengit dan dasyat, masing-
masing pihak ingin segera memenangkan pertempuran.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Kini peperangan memuncak”. Kemudian Rasulullah mengambil
segenggam pasir dan melemparkannya ke arah musuh sambil bersabda: “Buta mata kalian”.
Dengan izin Allah SWT setiap mata tentara musuh terkena lontaran pasir Rasulullah
sehingga membuat mereka kalang kabut dan mundur.
Kekuatan Musuh Terpecah
Tidak berapa lama, setelah Rasulullah صلى الله عليه وسلم melemparkan pasir ke muka tentara musuh,
tampaklah kekalahan mereka, dari pihak Thaqif tujuh puluh (70) orang tentara terbunuh,
dengan demikian kaum muslimin memenangkan peperangan dan memperoleh harta
rampasan dan peralatan senjata musuh termasuk kaum wanitanya menjadi tawanan.
Firman Allah :
_Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai._
{QS. At-Taubah 9:25}ِ
Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang
beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah
menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada
orang-orang yang kafir.
{At-Taubah 9:26}
Pengejaran Musuh
Sebagian musuh yang kalah melarikan diri ke Taif, kelompok lain lari ke Nakhlah, sebagian
lagi lari ke Autas.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم segera mengirim satu unit pemburu yang dipimpin oleh Abu Amir Asya’ari, di
sana terjadi pertempuran seru di antara mereka, di sekitar perkemahan mereka, akhirnya
suku musyrikin harus mengakui keunggulan pasukan Islam. Akan tetapi dalam pertempuran
ini Abu Amir Asya’ari harus mengalami syahid.
Kelompok tentara Islam yang lain memburu kelompok musyrikin yang lari ke Nakhlah dan
pertempuran seru tejadi secara sporadis, tentara Islam akhirnya memenangkan setiap
pertempuran.
Duraid bin Sammah akhirnya juga terbunuh, dibunuh oleh Rabiah bin Rafi’e. Sedang kelompok yang lari ke Taif, Rasulullah sendiri yang memburunya dan di akhir pengejarannya memperoleh rampasan-rampasan perang yang sangat banyak.
Bersambung…

Related posts

Kisah Rasulullah (157)

adminjtq01

Kisah Rasulullah (81)

adminjtq01

Kisah Rasulullah (38)

adminjtq01