Penggagas Sistem Privat, Kini Aktif Mengajar Sistem Cepat Terjemah Alquran

Suwito

Awalnya, pengajian murattal di Masjid Hidayatullah, dilaksanakan secara klasikal. Saat itu belum ada penerapan lagu. Lagu hanya satu macam, yakni Nahawand. Para peserta, baik yang lama maupun yang baru, langsung mengikuti mengaji sesuai urutan (seperti tadarus). Kecuali bagi mereka yang belum bisa membaca, maka mereka melalui metode Iqra’ dulu. Saat itu belum terpikirkan metode Al Baghdadi/Turutan.

Ternyata sistem klasikal tersebut menyisakan masalah. Apalagi bagi mereka yang belum lancar membaca. Mereka tidak terpantau secara khusus. Sementara ada juga yang jarang masuk. Tahu-tahu sudah khatam. Oleh karena itu, salah satu peserta, yakni Suwito, profil kita kali ini, mengusulkan agar sistemnya diubah dari klasikal menjadi privat.

Dengan demikian, setiap orang akan mengaji Alquran secara urut, surat demi surat, ayat demi ayat. Alhamdulillah, sistem ini akahirnya berjalan hingga sekarang. Cerita punya cerita, ternyata Ust. Suwito ini, demikian ia biasa dipanggil, mengikuti pengajian ini juga cukup lama. Bahkan hampir mulai periode awal.

Ayah dari dua orang putri yang dilahirkan di Lamongan, tepatnya di Desa Sugihwaras, Kecamatan Kalitengah, Kabupaten Lamongan, pada 7 September 1970 ini, menempuh Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) di desa tempat kelahirannya. Sedangkan jenjang Pendidikan selanjutnya, Madrasah Aliyah Negeri (MAN) I Gresik, yang berlokasi di Kecamatan Bungah.

Ust. Suwito mengaku tidak belajar khusus mengenai bacaan Alquran, meski di jenjang pendidikannya terdapat pelajaran khusus tentang Alquran. Karena itu, ketika ada pengajian tentang pendalaman baca Alquran, ia sangat tertarik dan ingin meningkatkan kualitas bacaan Alquran-nya.

Mengenai Program Murattal Tujuh Lagu (PMTL), Ust. Suwito mengakui, ada perasaan harap-harap cemas. Artinya ada tantangan, tapi juga ada perasaan cemas, apakah bisa mengikuti program ini? Akhirnya, ia pun mengikuti dengan telaten.

“Awalnya, saya merasa sangat sulit untuk mengikutinya. Bahkan hampir putus asa. Tapi kemudian saya beripikir, bahwa ini adalah tantangan yang harus dilalui. Dan akhirnya saya dapat melaluinya dengan sukses, terbukti telah lulus PMTL,” kata lulusan PMTL dengan nomor sertifikat 014/S/JTQ-Jatim/II/2013 ini.

Ust Suwito yang mengikuti PMTL di kelompok, Musala Al Barakah, Kandangan Rejo Surabaya ini, selain masih tetap mengikuti PMTL, juga menjadi imam rawatib di musala tersebut. Mendengar bacaan yang dirasa cukup bagus, salah seorang makmumnya ternyata ada yang pakar metode cepat terjemah Alquran, yakni Dr Masrur Huda, M.Pd.I, yang juga dosen Pascasarjana dan pengasuh Wisata Akhirat Internasional.

Masrur Huda tampaknya cukup tertarik dengan bacaan Ust. Suwito dan berminat ingin menurunkan ilmu metode cepat terjemah Alquran tersebut kepada Ust. Suwito. Bagai gayung bersambut, akhirnya mereka sepakat mengadakan pembelajaran terjemah Alquran di Musalla tersebut.

Hari berganti minggu, bulan dan tahun. Akhirnya Ust. Suwito sekarang sudah bisa mengembangkan ilmu metode cepat terjemah Alquran tersebut dan mengajarkan kepada para jamaah di berbagai tempat. Di antara jadwal mengajarnya adalah, pada hari Jumat, selepas salat Isya’ di Masjid Mujahidin II, Griya Citra Asri, Surabaya.

Hari Senin, sesudah Salat Isya’, Masjid Baiturrahman, Pakal, Surabaya, Selasa setelah Isya’ di TPA Nahdlatul Ilmi, Kota Baru Driyo Rejo, Gresik, Hari Rabu, di Masjid An Nadifah, Pasukan Kuning, Pakal, Surabaya, Kamis di Perum Griya Kencana, Driyo Rejo, Gresik. “Semua waktunya ba’da Isya’,” tutur Suwito.[choirul anam djabar]