Kisah Nabi Musa AS Dan Khidir AS

Tidak ada komentar 27 views

Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, suatu ketika nabi Musa as. berkhutbah di hadapan kaumnya bani Israel. Kemudian dia ditanya tentang siapa yang paling dalam dan luas ilmunya. Nabi Musa as. menjawab bahwa dialah yang paling dalam dan luas ilmunya. Lalu Allah menegurnya karena tidak mengembalikan jawaban tersebut kepada Allah SWT. Lalu Allah berfirman kepadanya, bahwa Dia memiliki seorang hamba yang shalih dimana ilmu serta pengetahuannya lebih luas dan lebih dalam darinya.

Musa as. kemudian meminta kepada Allah untuk dipertemukan dengan hamba tersebut agar bisa belajar kepadanya. Allah menyuruh Musa as untuk pergi menemui hamba-Nya itu yang menurut riwayat bernama Khidhr, ke tempat pertemuan dua lautan, dengan membawa sesekor ikan yang sudah mati dan diletakan di atas sehelai daun korma. Di tempat mana ikan tersebut hidup dan melompat di situlah tempat hamba Allah tersebut berada.

Maka berangkatlah Musa as. bersama seorang pembantunya mencari hamba Allah tempat dia akan menuntut ilmu. Sebelum berangkat, nabi Musa berpesan kepada pembantunya, agar memberitahukan kepadanya jika nanti ikan yang mereka bawa hidup kembali dan melompat ke dalam air, karena di situlah tempat guru yang dia cari berada. (Kisah ini secara lengkap diceritakan Allah dalam surat al-Kahfi (18): 60-82).

Dengan tekad yang bulat dan semangat yang membaja, nabi Musa as. berkata kepada pembantunya, “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan, atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun menghabiskan umurku demi mencari guru tempat aku belajar itu”. Setelah melewati perjalanan yang panjang, maka mereka pun sampai ke pertemuan dua buah laut itu, dan mereka beristirahat beberapa saat pada sebuah batu di tempat itu. Akan tetapi, mereka tidak menyadari kalau di situlah tempat yang mereka cari. Bahkan, mereka lalai akan ikan yang mereka bawa, karena saat mereka berada pada pertemuan dua lautan itu, atau ketika mereka beristirahat pada sebuah batu di tempat itu, ikan tersebut melompat ke dalam air dan hidup kembali.

Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya, “Bawalah kemari makanan kita, sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan ini”. Nabi Musa meminta pembantunya untuk mengeluarkan makanan yang mereka bawa, termasuk juga ikan yang ada di kantongnya. Akan tetapi, muridnya menjawab, “Maaf Ya Musa, Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa menceritakan tentang ikan itu – dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan – bahwa ikan itu melompat dan mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali”. Musa berkata, “Itulah tempat yang kita cari”. Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula, hingga sampai di tempat ikan itu melompat. Maka bertemulah mereka dengan seorang hamba yang disebutkan Allah, yang bernama Khidr yang telah diberikan Allah kepadanya rahmat dari sisi-Nya berupa ilmu tentang sesuatu yang zhahir, dan yang telah Allah ajarkan kepadanya ilmu laduni (ilmu tentang sesuatu yang bathin).

Musa berkata kepada Khidhr sambil mengajukan permohonan untuk belajar kepadanya, katanya: “Bolehkah aku mengikutimu supaya engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?”. Khidr menjawab, “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar jika kamu pergi bersama aku”. Khidr kemudian melanjutkan ucapannya, “Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”. Musa berkata, “Insya Allah engkau akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentang dan membantahmu dalam sesuatu urusanpun”. Dia berkata, “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu”

Maka berjalanlah keduanya melewati beberapa negeri. Tatkala keduanya sampai di sebuah pantai, mereka menumpang pada sebuah perahu nelayan untuk menyeberangi lautan menuju suatu tempat. Ketika berada di dalam perahu itu, dan setelah mereka mendapatkan tumpangan gratis dan pelayanan yang bagus dari pemiliknya, tiba-tiba Khidhr melobangi perahu tersebut. Melihat hal itu, nabi Musa tidak mampu menahan diri dan berkata, “Mengapa engkau melobangi perahu ini, tidakkah engkau tahu akibatnya bahwa engkau akan menenggelamkan penumpangnya yang telah menjamu kita?”. Sesungguhnya engkau telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar”. Nabi Khidhr berkata, “Bukankah aku telah berkata, Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku”. Musa berkata sambil bermohon, “Janganlah engkau menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah engkau membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku”. Khaidir kemudian memaafkan Musa dan memberinya kembali kesempatan untuk ikut serta menemaninya dan belajar kepadanya.

Maka berjalanlah keduanya beberapa lama, hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr mengeluarkan pedangnya dan membunuh anak tersebut. Menyaksikan tindakan Khidr, Musa tidak sanggup menahan diri dan berkata, “Mengapa engkau membunuh jiwa yang bersih tanpa alasan yang benar, bukankah dia seorang anak yang tidak bersalah dan tidak pula membunuh orang lain? Sesungguhnya engkau telah melakukan suatu yang mungkar”. Khidhr berkata, “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?”. Musa kembali bermohon sambil berkata: “Jika aku bertanya kepada engkau tentang sesuatu sesudah kali ini, maka janganlah engkau memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya engkau sudah cukup memberikan uzur padaku.” Nabi Khidr kembali memaafkan Musa dan memberinya satu kesempatan lagi.

Maka keduanya meneruskan perjalanan, hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu dan diberi makanan dan minuman kepada penduduk negeri itu. Akan tetapi, tidak seorangpun penduduk negeri itu tidak yang bersedia menjamu mereka dan memberikan sedikit makanan dan minuman. Kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding sebuah rumah yang hampir roboh, maka Khidhr memperbaiki dan menegakkan dinding itu. Melihat hal itu, Musa kembali berkata, “Jikalau engkau mau, niscaya kamu bisa mengambil upah untuk itu. Tidakkah engkau tahu betapa jahatnya perlakuan penduduk negeri ini kepada kita?”. Nabi Khidhr pun berkata, “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu, hai Musa. Saya telah berikan dua kesempatan untukmu, dan ini adalah kesempatan terakhirmu. Akan tetapi, kamu tidak bisa menahan diri dan bersabar untuk tidak bertanya. Sekarang akan kuberitahukan kepadamu tujuan dan hikmah perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.”

Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut. Mereka bekerja keras siang dan malam demi untuk membeli sebuah bahtera, agar bisa menghidupi keluarga mereka. Aku bertujuan melobangi bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja (bajak laut) yang merampas tiap-tiap bahtera yang bagus. Jika perampok itu nanti melihat kapal tersebut telah rusak, niscaya mereka tidak akan mengambilnya sehingga selamatlah kapal nelayan miskin itu dari perampokan.

Adapun anak kecil yang saya bunuh tadi, maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin yang shalih dan taat. Jika nanti anak itu dewasa, dia akan mendorong dan memaksa kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Setelah aku membunuhnya, nanti Allah pasti mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesucian dan kesalehannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya kepada ibu bapaknya.

Adapun dinding rumah yang saya perbaiki tadi adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua yang sengaja ditinggalkan ayah mereka ketika masih hidup dulu. Ayah mereka adalah seorang yang saleh dan taat kepada Allah. Jika dinding itu tidak diperbaiki, rumah itu akan roboh dan ditinggalkan anak-anaknya. Dengan demikian, harta warisan peninggalan ayah mereka tentulah tidak sampai ke tangan mereka. Allah menghendaki ketika mereka sudah dewasa nanti, mereka bisa mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu. Ketahuilah hai Musa, bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri, namun adalah petunjuk dari Allah. Demikian itu adalah tujuan dan hikmah perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya”.

Musa pun menyadari kelemahannya dan bertaubat kepada Allah atas sikapnya yang angkuh dan merasa besar. Sadarlah Musa, bahwa masih ada manusia yang mengatasinya dan memiliki kelebihan yang tidak dimilikinya.

Dari kisah di atas dapat diambil pelajran; Pertama terkait dengan sikap hidup yang mesti dijauhi setiap manusia. Di mana, hendaklah setiap manusia selalu menjauhkan diri dari sikap merasa diri sebagai yang terbaik. Sebab, sikap ini kemudian akan membawa seseorang menjadi orang yang sombong, takabbur, memandang rendah orang lain yang pada akhirnya tidak bersedia menerima kebenaran dan nasehat siapaun. Sebaliknya, hendaklah setiap manusia memiliki sikap tawadhu’ (rendah hati), sekalipun memiliki banyak kelebihan dari kebanyakan manusia lain. Sadarilah, bahwa betapapun hebat dan tingginya kedudukan seseorang, pastilah di tempat lain dan di waktu yang lain, ada manusia yang lebih hebat dan lebih tinggi darinya. Kalaupun tidak ada yang mengatasinya, pastilah Allah mengatasi segalanya.

Kedua, terkait tentang bagaimana sikap sikap seorang pencari ilmu atau murid dalam belajar dan mencarai ilmu dan sikap seorang alim atau guru yang bertugas mengajarkan ilmu kepada muridnya. Dalam kisah tersebut, sosok seorang murid diperankan oleh nabi Musa as. dan sosok seorang guru diperankan oleh Khaidir as. Di antara pengajaran itu adalah;

 Sikap yang mesti dimiliki seorang murid dalam menuntut ilmu. Yaitu;

# Seorang murid dalam mencari ilmu haruslah merasakan bahwa belajar atau memperoleh ilmu adalah kebutuhannya. Seorang murid idealnya haruslah menjadi pengemis dalam menuntut ilmu. Itulah yang ditunjukan oleh nabi Musa as. kepada gurunya Khidhr as. seperti yang disebutkan dalam ayat 66, “Musa berkata kepada Khidir: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?”. Bahkan beberapa kali Khidhr as. berupaya menolak nabi Musa as. agar mengurungkan niatnya. Namun setiap kali ditolak, nabi Musa as. terus “merengek” kepada gurunya agar diberi kesempatan untuk belajar.

Begitulah sikap yang mesti dimiliki seorang murid dalam melalui proses balajar, bahwa dia harus menjadi “pengemis” ilmu. Seorang murid yang baik dan sukses adalah murid yang selalu mencari keberadaan ilmu di manapun ia berada. Dia akan sangat sedih dan kecewa ketika sang guru tidak datang atau tidak didapatinya. Begitu juga dia akan sangat kecewa sekiranya pelajaran yang mestinya dia peroleh tidak didapatinya.

#Seorang murid dalam menempuh proses belajar harus penuh kesabaran. Sebab, proses yang sedang dilaluinya bukanlah sesuatu yang mudah dan tanpa rintangan. Setiap saat rintangan dan godaan akan selalu menghadangnya, dan jika dia tidak siap menghadapinya dipastikan proses yang dilaluinya tidak akan berujung kepada kesuksesan. Inilah yang digambarkan melalui ungkapan Musa as. kepada Khidhr as. dalam ayat 69, “Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar”. Bahkan saking pentingnya kesabaran dalam menjalankan proses belajar, sehingga dalam kisah tersebut kata sabar disebutkan tidak kurang dari tujuh kali.

Dalam menempuh proses belajar seseorang akan menghadapi berbagai macam godaan dan rintangan, baik dari dalam mapun dari luar diri. Seperti, godaan untuk berhura-hura, bermain, atau gejolak jiwa akibat keterkungkungan selama proses pendidikan. Jika seseorang tidak mampu menahan gejolak dan gangguan tersebut, maka kesuksesan dalam belajar akan susah untuk dicapai dan diwujudkan.

#Seorang murid harus patuh dan hormat kepada guru. Sebab, dalam proses belajar jika terjadi komunikasi yang kurang baik antara murid dan guru, maka dikhawatirkan proses belajar tidak akan berjalan baik. Oleh karena itu seorang murid harus bisa menjaga sikap agar sang guru tidak merasa dilecehkan, kurang dihargai dan sebagainya. Dengan ungkapan lain, seorang murid harus menghormati guru dan tidak berlaku durhaka kepadanya. Itulah yang digambarkan Musa as. kepada Khidhr as dalam ungkapannya pada ayat 69, …… dan aku tidak akan menentangmu (mendurhakaimu) dalam sesuatu urusanpun”.

Itulah sebabnya kenapa Imam Syafi’i ra. pernah mensyaratkan seseorang akan mendapatkan ilmu jika dia memenuhi lima hal, salah satunya adalah menciptakan hubungan dan komunikasi yang baik dengan sang guru. Sebab, jika guru senang dengan muridnya dan murid juga senang kepada gurunya, sesulit apapun pelajaran itu murid akan mampu mencerna dan menerimanya.**