Lulusan Pertama PMTL

Tidak ada komentar 157 views

Nama lengkapnya adalah Muhammad Ali Misbahul Munir, MThI. Di satu komunitas, ia biasa dipanggil Ust. Ali, namun di komunitas lain ada yang memanggilnya Ust. Munir. Sementara tak jarang juga komunitas yang memanggil Ust. Misbah.

Selain menjadi lulusan yang pertama, Ust. Munir adalah orang yang pertama kali menerima Program Murattal Tujuh Lagu (PMTL). Terus terang untuk mensosialisasikan PMTL tidaklah mudah. Sudah bertahun-tahun penulis memiliki konsep mengenai murattal tujuh lagu ini.

Namun tidak begitu saja diterima di masyarakat. Mulai dari keluarga, guru-guru Taman Pendididikan Alquran (TPA/TPQ) di lingkungan terdekat, apalagi di masyarakat umum. Mereka beralasan, mempelajari satu lagu saja sudah sulit, kok malah disuruh tujuh lagu. “Tidak terbayangkan betapa bingungnya,” kata mereka.

Ternyata hal ini tidak terjadi pada Ust. Munir. Ketika sama-sama ngaji di Ma’had Tambakbening Indonesia (MTI), yang diasuh KH Miftahul Luthfi Muhammad (Gus Luthfi), Ust. Munir menawari penulis untuk mengajar mengaji di pondoknya.

Lalu penulis tawarkan PMTL. Tidak banyak tanya, langsung diterimanya. Keyakinan itu semakin mantap ketika penulis demonstrasikan bacaan basmalah dengan tujuh lagu. Pekan itu juga kami mulai belajar-mengajar mengenai PMTL. Sebelum santri-santrinya belajar, pria kelahiran Gresik, 21 Mei 1982 inilah yang pertama kali mendalami PMTL bersama sang istri tercinta, Yuni Maria Ulfa, SHI.

Bagi Jam’iyah Tilawatil Quran (Jatiqo) Jatim, tampaknya harus berbangga, karena di samping memiliki santri yang sudah lulus S2, Ust. Munir sudah memiliki jam terbang yang cukup tinggi dalam hal berdakwah. Pendidikan S1-nya ditempuh di LPBA Masjid Sunan Ampel jurusan Ahwalus Shahsiyyah dengan mendapatkan gelar SHI. Sedangkan pendidikan S2-nya ditempuh di IAIN (UIN) Sunan Ampel Surabaya jurusan tafsir Hadis dan mendaptkan gelar MThI.

Sementara pendidikan pondok pesantrennya antara lain ditempuh di beberapa pondok pesantren salaf, seperti di Ponpes Al Ma’ruf Lamongan, yang diasuh oleh KH Abdul Azis Choiri, Ponpes Al Ishlah, Bungah, Gresik asuhan KH Ahmad Maimun Adnan, Ponpes Al Muhsin, Condong Catur, Yogyakarta yang diasuh oleh KH Abdullah, serta Ponpes Al Asasiyah, Gendangsewu, Pare, Kediri, asuhan KH Baidhowi.

Mengenai sepak terjangnya di bidang dakwah, bapak dari lima orang anak ini menceritakan, dia mulai digembleng untuk bisa menyampaikan dakwah sejak dididik di pesantren. “Keberanian untuk berbicara di depan umum digembleng sejak usia SMA (17 tahun). Saat itu, saya sudah sering diberi amanah oleh orang tua saya untuk menggantikan khutbah Jumat serta beberapa kali memberikan sambutan di berbagai walimah,” papar dia mengisahkan.

Setelah tinggal di Surabaya, bertemulah dengan KH Abdurrahman Navis. Pertemuan ini membawa hikmah tersendiri, karena bisa memperluas jaringan dakwah, yakni ke beberapa radio, seperti Elvictor, Suzana, dan RRI. Bahkan sempat beberapa tahun tampil di TV9. Saat ini, kajian yang eksis di media elektronik adalah kajian ‘Sangune Turu’ di Radio Elvictor 93,3 FM, dengan mengkaji kitab Jawahirul Bukhori.

Sedikit tentang kisah berhentinya tampil di TV9, pengasuh Ma’had Nurul Quran (MNQ) Surabaya yang bermarkas di Jl Mleto Surabaya ini mengaku memang mohon izin untuk berhenti. Alasannya unik, di tengah para da’i yang menginginkan popularitas dan tampil di teve, justru Ust. Munir menghindari popularitas.

Hal ini untuk menjaga image bahwa seorang dai yang sudah tampil di tv, tarifnya mahal. Ia tidak ingin ‘cap’ itu menempel pada dirinya. Karena itu, ia pilih mundur. Selain itu, dia juga ingin lebih fokus ke pesantrennya. Dan yang tak kalah pentingnya, dia ingin menjaga netralitas dalam berdakwah.

Tentang pendalaman ilmu membaca Alqurannya, dia menjelaskan, pertama kali yang mengajarkannya adalah orang tuanya, kemudian berlanjut ke beberapa pesantren seperti yang disebutkan di atas. “Kemudian mengikuti PMTL yang diasuh Ust. Choirul Anam Djabar. Sementara untuk setoran bil ghoib kepada KH Ahmad Dzul Hilmi Ghozali di Ampel,” kata Ust. Munir yang pernah mengikuti program menghafal Alquran 30 Juz dalam waktu 30 hari dan dikarantina di Bali tersebut.

Mengenai motivasinya untuk mendalami PMTL, ust. Munir yang kini aktif menulis buku dan menulis artikel di media sosial ini, adalah dalam rangka menjalankan titah Nabi untuk memperindah bacaan Alquran. Sesuai dengan sabda Nabi: “Barang siapa yang tidak melagukan Alquran, maka ia bukan dari kami”.

“Dan yang paling utama, ingin mempersembahkan yang terbaik kepada Allah. Karena kita yakin, setiap membaca Alquran, senantiasa didengar langsung oleh Allah Swt,” tambah dia mengakhiri pembicaraan.**

Oleh : Choirul Anam Djabar