Giat Mengaji Setelah Jadi TKW

Tidak ada komentar 160 views

Sumarti

Sumarti, demikian, nama santri Program Murattal Tujuh Lagu (PMTL) Jam’iyah Tilawatil Quran (Jatiqo/JTQ) Provinsi Jatim ini. Oleh teman-teman, ia lebih akrab dipanggil dengan Ibu Sumarti. Ia adalah salah satu santri Jatiqo Jatim yang bisa di bilang assabiqunal awwalun, karena ia mengaji sejak PMTL ini berdiri.

Ibu kelahiran 17 september 1968 ini mengambil jadwal tiap hari Ahad setelah Subuh di Masjid Hidayatullah, Kandangan Surabaya. di sela sela padatnya keseharian di tengah Kota Surabaya karena bekerja di perusahaan PT Unison Surabaya.

Ia mengakui, di masa mudanya dirinya adalah seorang yang punya kebiasaan meterialistis. Suka dengan uang banyak. Warna hidup itulah yang mendorong dirinya untuk hijrah ke Malaysia sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW), di samping juga ada prolem rumah tangga.

Di Malaysia, ia bekerja menngurus orang jompo dan mengasuh anak kecil di komplek orang cina. Kehidupan yang berbeda dengan di rumah membuat ia rindu akan kampung halaman tarlebih suasana di kompeks orang Cina yang melarang melakukan ibadah, baik salat, ngaji atau pun sekedar bawa mushaf Alquran.

Karena tekanan itulah ia kemudian menjadi rindu kampung halaman dan punya nadzar untuk bisa ngaji seperti orang pada umunnya. Selang setahun berlalu ibu sumarti pulang ke kampung halaman yang di rindukannya. Ketika di rumah, ia kembali aktif dengan kegiatan Yasinan, Tahlilan, dan sebagainya, dengan mengikuti jamaah pengajian di Nurul Islamiah ‘Pandan Sari’ yang berlokasi tidak jauh dari rumahnya.

Di situlah ia bertemu dengan ketua jam’iyah pengajian tersebut, yakni Bu Narti dan menyarankan untuk ngaji ke Ustadz Choirul Anam Djabar, yang tak lain adalah ketua Jam’iyah Tilawatil Quran Provinsi Jawa Timur.

Lima tahun berlalu. Kini Bu Sumarti bisa mengaji dengan cukup baik dan benar, jika dibandingkan dengan sebelumnya. Keadaan ini membuat ia semakin bahagia dan merasakan ketentraman dalam hati. Ia juga merasa senang, karena selama ini ia merasa salatnya semakin aktif. “Ngaji pun bebas dari tekanan dan tantangan,” katanya mengenang saat berada di negeri orang dengan ancaman dan tekanan.

Meski kini ia tidak jadi guru ia tetap semangat tilawah di sela sela istirahat kerja. Ia juga berharap bisa mengajari cucu-cucunya di rumah. Di samping mempelajari murottal tujuh lagu, a juga mendalami seni baca Alquran (tilawah).

Dan ini dipraktikkannya setiap kali ada kesempatan pada saat lailatul qiroah yang diselenggarakan di Masjid Hidayatullah, Kandangan Surabaya yang dilaksanakan pada setiap hari Sabtu malam Ahad, sehabis salat Isya hingga jam Sembilan malam. Acara ini diselenggarakan oleh Jam’iyah Tilawatil Quran Provinsi Jawa Timur.

Oleh : Faris (reporter Jatiqojatim.com)