Sunarko, Kini Jadi Muadzin, Bilal dan Imam

0 261

Sunarko

 

Oleh: Faris (Reporter Jatiqojatim.com)

Sunarko, laki-laki kelahiran Surabaya, 30 Juni 1981 itu kini menjadi bilal masjid besar At Tauhid, Pondok Benowo Indah (PBI) Surabaya. Selain itu, kini dia pun menjadi muadzin sekaligus imam di mushala Hidayatullah, di kawasan PBI.

Semua itu, diakui Sunarko, adalah berkat usaha kerasnya mengikuti pengajian murattal yang dikenal dengan Program Murattal Tujuh Lagu (PMTL) yang diselenggarakan Jam’iyah Tilawatil Quran (Jatiqo/JTQ) Provinsi Jawa Timur.

Harus diakui, bahwa memang mengikuti pelajaran PMTL, tidak hanya belajar membaca Alquran melulu. Tapi juga bisa belajar adzan, bilal, tilawah, dan sebagainya. Bahkan, kalau mau, bisa juga belajar menulis artikel, pidato, khutbah, dan lain-lain. Ia memilih jadwal pengajian di Masjid Hidayatullah, Kandangan Surabaya setiap hari Jumat, Sabtu, dan Ahad, setelah Subuh.

Dulunya, bapak dari dua orang anak ini tidak bisa mengaji sama sekali. Hanya mengenal huruf hijaiya saja. Kemudian setiap pagi ia melihat tetangganya (Abah Kusnan) berpakain busana muslim rapi mengendarai motor menuju arah timur. Dalam hati ia bertanya kemana ia pergi setiap pagi setelah subuh.

Perlu diketahui, bahwa lokasi Masjid Hidatullah, Kandangan adalah sebelah timur perumahan Pondok Benowo Indah, tempat Pak Narko (demikian ia biasa dipanggil) berdomisili. “Kemana Bah setiap pagi kok bersepeda  ke arah timur?” sapa Narko kepada Abah Kusnan, tetangganya itu.

“Ngaji ke Kandangan,” jawab Abah Kusnan. Lalu Pak Narko pun yang kemudian tertarik untuk ikut mengaji ke Masjid Hidayatullah, Kandangan Surabaya.

Sesampai di masjid kandangan ia tertegun melihat pemandangan di mana banyak santri mengaji, mulai dari anak-anak, remaja, ibu-ibu, bapak-bapak, sampai kakek-kakek dan nenek-nenek. Pak Narko benar-benar merasa terharu melihat antusias para santri.

Bahkan di usia tua pun masih giat mengaji. Sedang dirinya yang lebih muda dari mereka belum bisa mengaji dan belum mau belajar. Sejak itulah, tumbuh semangat untuk kembali belajar mengaji yang sudah lama terlupakan. Karena ia mengaji pada usia kanak-kanak, dan belum sampai tuntas. Kemudian berhenti sampai pada usia dewasa ini.

Dengan profesi sebagai sopir muatan pick up, setiap kali tidak ada angkutan beliau tetap semangat berangkat ngaji. Di rumah pun ia tetap semangat mengaji bersama istrinya. Kini dia sudah mulai bisa mengaji dan menghafal surat-surat pendek dengan baik dan benar.

Meskipun sampai tulisan ini diturunkan, ia belum lulus PMTL, namun ia tetap bersyukur, karena telah banyak peningkatan daripada sebelumnya. Yang lebih mengesankan, kendati belum maksimal, namun telah dibutuhkan oleh umat, seperti menjadi bilal, muadzin, dan imam salat.

Karena itulah, ia lebih semangat lagi untuk belajar dan belajar. Tak lupa, Pak Narko juga menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para ustadz di Masjid Hidayatullah Kandangan, seperti Ust. Sugiono, Ust. Barizi, dan lebih-lebih kepada Ustadz Choirul Anam Djabar, yang dengan tekun dan sabar membimbing dirinya, sehingga sedikit demi sedikit telah mampu membaca Alquran dengan baik dan benar. “Terima kasih semuanya, kami tidak bisa membalas apa-apa, hanya dengan iringan doa, mudah-mudahan semua amal kebaikan para ustadz, mendapat pahala di sisi Allah Swt,” kata Pak Narko menutup pembicaraan.***

Kategori: Profil SantriTag: