Kisah Orang yang Menyakiti Ahli Shalawat

0 836

Hb Munzir dalam riwayat yang tsiqah (kuat) menyatakan bahwa pada beberapa waktu yang lalu Syaikh Farazdaq orang yang selalu memuji Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, terus menerus memuji Rasul. Kalau kita sekarang pujian-pujian itu seperti qasidah, maka setiap tahun dia selalu datang ke maqam Rasul di Masjid Nabawy dan membaca syair-syair pujian kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan setelah itu pulang. Setiap tahunnya seperti itu. Dan setelah beberapa tahun datanglah seseorang menegurnya dan mengundangnya makan malam ke rumahnya.

Di Negara-negara timur tengah merupakan hal yang biasa jika ada orang asing di kampung mereka kemudian diundang ke rumah mereka untuk makan bersama, itu adalah hal yang umum di sana. Maka Farazdaq sampailah di suatu tempat di luar kota Madinah dan masuklah ia ke dalam sebuah rumah besar.

Kemudian ia dipegangi oleh beberapa pengawal orang yang mengundangnya, dan orang yang mengundang itu berkata: ”aku benci jika engkau memuji Rasulullah, sekarang akan aku gunting lidahmu agar kau tidak bisa lagi membaca syair untuk memuji Rasul”. Maka ia pun memaksanya dan mengeluarkan lidahnya dan menggunting lidah Farazdaq dan melepaskannya dan memberikan lidah itu kepada Farazdaq kemudian menyuruhnya pergi.

Maka Farazdaq pergi dan menangis menahan sakit bathin dan sakit zhahirnya, sakit zhahirnya bagaimana rasa sakit jika lidah digunting, dan sakit bathinnya karena ia tidak bisa lagi membaca syair untuk memuji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sebagaimana biasa maka ia pun pergi ke makam Rasulullah dan ia bersandar di hadrah as syarif di dalam masjid nabawy , dan ia berkata di dalam doanya : ”Wahai Allah, kalau shahibul maqam ini ( Rasulullah ) memang benci dengan perbuatanku ini maka biarkan aku agar tidak lagi memujinya, tetapi jika Engkau meridhai dan shahibul maqam ini ( Rasulullah ) senang jika aku terus memujinya dengan syair maka sembuhkanlah aku”.

Maka ia pun dalam tangisnya tertidur dan di dalam tidurnya ia bermimpi Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam berhadapan dengannya dan berkata : ”mana lidahmu yang digunting oleh orang itu , ? kemudian diambil oleh Rasul dan beliau berkata : ” buka mulutmu ” dan dikembalikan ke mulutnya dan Rasul berkata : ” aku gembira dengan perbuatanmu, maka teruskanlah dakwahmu dan syairmu”. Maka ia terbangun dan ia dapati lidahnya telah kembali pada posisinya.

Kemudian di tahun berikutnya syaikh Farazdaq kembali lagi ke maqam Rasul dan memujinya sebagaimana biasa ia lakukan tiap tahun, dan ada lagi orang yang mengundang untuk makan malam di rumahnya dan ia pun menerima undangan itu dan ia pun dibawa ke rumahnya.

Ketika dilihat rumah itu adalah rumah yang tahun lalu pernah ia datangi, maka syaikh Farazdaq tidak mau masuk, maka orang itu berkata : ”aku ingin kau masuk, kau jangan risau aku tau kau adalah orang yang baik dan kau lihat aku adalah orang yang jujur”.

Maka Syaikh Farazdaq masuk dan dilihat di dalam rumah itu ada sebuah penjara dari besi dan di dalamnya ada seekor kera (monyet) besar dan kera itu terus memandangi dan mengamuk melihat syaikh Farazdaq, maka berkatalah orang yang mengundang syaikh Farazdaq: ”Wahai syaikh taukah engkau siapa yang di dalam kerangka besi itu ” ? maka Farazdaq menjawab : ” itu kera ”.

Maka lelaki itu berkata : ”itu ayahku yang dulu setahun yang lalu menggunting lidahmu, setelah ia melakukan itu maka Allah merubahnya menjadi seekor kera, wahai syaikh tolong doakan ayahku itu supaya diampuni Allah dan diwafatkan, kasian karena dia telah berubah menjadi kera”. Maka Syaikh Farazdaq menangis dan mendoakannya dan wafatlah seekor kera itu.***

Kategori: Kisah InspiratifTag: