Empat Macam Shalat

0 13

Syekh Ibnu Atoillah Assakandari berkata bahwa shalat hakiki bisa membersihkan kotoran hati dan membuat hati bisa membaca isi hati orang lain.

Shalat itu ada empat macam:

Pertama, shalat maal ghoflah. Yakni shalat tapi tidak ingat Allah sama sekali.

Kedua, shalat maal yaqdzoh. Shalat yang kadang ingat Allah, kadang lupa. “Dua macam ini termasuk asal shalat, pokok shalat.

Orang yg shalat tipe satu dan dua ini belum bisa mendapatkan manfaat shalat, belum bisa tanha anil fahsya’i wal munkar. Dia shalat, tapi maksiat tetap jalan. Shalat tapi tetap suka bohong, menggunjing, buruk sangka, iri, dengki, dll.

Yang tiga dan empat,  termasuk iqomatis shalat.

Ketiga, shalat maal hudur. Yakni shalat dengan hati yg terus  madep manteb ingat Allah.

Keempat, shalat maal ghaib. Shalat dengan melihat Allah. Melihat Allah ini dengan mata hati.

Sebsgsi ilustrasi ;

Suatu hari santri Syekh Hatim Al ‘Ashom hendak sowan. Dia menunggu Hatim usai shalat Isya.

Namun setelah Isya, Hatim shalat dua rakaat bakda Isya.

Pada rakaat pertama dia tiba2 mbegagah.  Dia berjinjit dan hanya bertopang pada dua ibu jari kaki. Kepalanya terus menunduk sampai2 janggutnya menyentuh dada. Matanya melotot.

Sampai tengah malam sekitar pukul tiga Hatim baru selesai satu rakaat. Rakaat kedua dia selesaikan lebih cepat dari yg pertama.

Usai shalat, si santri lalu bertanya kenapa Hatim shalat seperti itu. Hatim cerita, ditengah shalat tadi Allah menunjukkannya surga. Dia keliling melihat surga.

Setelah itu Allah tanya, apa yg Hatim inginkan. Hatim menjawab hanya ingin  menyembah Allah dan pertolongan Allah. Sebagaimana fatihah yg dia baca, iyyaka na’budu wa iyyaka nastain.

Hatim bisa seperti itu karena setiap wudlu, dia tidak hanya wudlu dzohir, namun juga wudlu batin.

Wudlu batin yakni membersihkan hati dari tujuh hal.

 

  1. Tobat dari dosa.
  2. Nadam: menyesali kesalahan
  3. Membersihkan hati dari kesenangan dunia.
  4. Membersihkan hati dari kesenangan kedudukan jabatan.
  5. Membersihkan hati dari kesenangan dipuji orang lain.
  6. Membersihkan hati dari unek-unek jelek.
  7. Membersihkan hati dari iri dengki.

 

Kotoran hati ini jika tidak dihilangkan bisa membuat berat ibadah.

Suatu hari Syekh Juned Al Baqdadi takziah. Ditengah jalan dia lihat pemulung lalu membatin. “Seandainya orang ini tidak jadi pemulung.”

Malamnya dia tidak bisa ringan shalat malam seperti biasa.

Dia lalu mimpi melihat pemulung itu wafat. Dan jenazahnya disodorkan padanya disuruh makan. “Dalam Alquran, menggunjing itu  memang seperti makan bangkai teman (QS Al Hujurat 11-12)

Syekh Juned sadar bahwa yg membuatnya berat ibadah malam ini adalah unek2nya tentang si pemulung.

Esoknya, Syekh Juned mencari pemulung tadi untuk meminta maaf.

Ketika ketemu, si pemulung tadi sedang nyuci. Belum sampai Syekh Juned bicara, pemulung tadi sudah jawab, Syekh Juned aku maafkan unek2mu.

“Pemulung itu ternyata punya hati yg sangat bersih sehingga mengetahui isi hati Syekh Juned. Makanya kepada siapa saja, kita harus khusnuzzon.***

Kategori: Kisah InspiratifTag: