Kisah Menyingkap Rahasia Ayat Seribu Dinar

0 1

*Diadopsi dari kisah nyata

Sebut saja namanya Fauzan usai mengenyam puluhan kitab selama belasan tahun di pesantren Al-Falah Kediri, dia masih merasa haus akan ilmu.

Dia ingin melanjutkan hafalan Quran di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an di Malang yang diasuh oleh Gus Juned.

Gus Juned selaku pengasuh pesantren menyambut
baik keinginan Fauzan untuk menghafalkan Quran.

Dalam waktu dua tahun Fauzan berhasil mengkhatamkan hafalannya dan mengikuti wisuda. Ia berniat boyong, pamit pulang untuk selamanya.

“Gus…”
Sapa Fauzan membuka pembicaraan

Gak usah pulang !”
Disini aja sambil ngajari Nahwu Shorof para santri!”

Fauzan terkejut atas jawaban Kyainya. Belum menyampaikan maksudnya kok sudah dijawab. Dengan mimik wajah penuh keheranan dia bertanya dalam hati tahu darimana Gus Juned kalo dirinya berencana pulang.

“Usiamu itu sudah matang untuk menikah. Ntar aku carikan jodoh dari santriwati sini. Biar hidupmu lebih tenang gak goyang !” seloroh Gus Juned yang makin membuat tubuh Fauzan panas dingin.

” Tapi Gus. Saya belum punya pekerjaan. Saya kan harus menafkahi anak istri saya nanti.” keluh Fauzan dengan nada meratap.

Sudahlah manut saja !
“Fauzan, ketika Allah sudah mengizinkan seorang hamba lahir ke dunia, maka Dia punya tanggung jawab mengatur dan mencukupi rezeki kita. Apalagi kepada hamba yang mau mengabdi pada Agama-Nya!”

Singkat cerita menikahlah Fauzan dengan Samirah santriwati yang terkenal wajahnya bercahaya karna tak pernah batal wudhu, pilihan Kyainya.
Seorang putri pengusaha mebel di Jepara yang lebih dulu menyelesaikan hafalan qurannya daripada Fauzan.

Semenjak menikah Fauzan memilih kontrak rumah di sekitar Pesantren. Supaya bisa lebih mudah wira-wiri dari rumah ke pesantren untuk mengajar.

Suatu hari karna uang pinjaman dari sahabatnya makin menipis, selain buat ngontrak rumah namanya rumah tangga ada saja kebutuhannya.

Fauzan cukup dibuat kalut dengan kondisi keuangan keluarga kecilnya. Apalagi sang istri sedang hamil muda. Tak enak rasanya jika harus mengeluh ke Kyainya.

Muncul dalam benaknya untuk keluar dari pesantren dan mencari pekerjaan dengan penghasilan yang lumayan.

Suatu malam dia terbangun oleh suara muntahan istrinya. Setelah merawat sampai mengantar istrinya tidur, Fauzan mengambil air wudhu untuk mendirikan sholat tahajjud dan sholat Hajat.

Karna banyaknya dzikir yang ia baca membuatnya jatuh tertidur di musholla rumahnya.

Ia bermimpi Gus Juned duduk di serambi masjid duduk disampingnya.

“Sudah gak usah nyari pekerjaan di luar. Takdirmu itu mengabdi disini. Pokoknya jangan lupa setiap sholat Ashar baca surat Waqiah 14 kali secara istiqomah !”

Suara adzan subuh membangunkan Fauzan dari tidurnya. Dia menangis atas jawaban yang diberikan Allah Swt dalam mimpinya. Betapa sang Guru rupanya memperhatikan dirinya lahir dan batin.

Selang hari ke 40 rutin membaca Waqiah. Secara pelan tapi pasti banyak peristiwa terjadi secara alamiah yang menyebabkan kondisi perekonomian rumahtangganya meningkat drastis.

Saat kedua mertua Fauzan menjenguk putrinya yang sedang hamil, Fauzan dipanggil, dan didudukkan di ruang tamu. Mereka menyampaikan niat yang selama ini belum tersampaikan.

“Mas Fauzan, Bapak dan Ibu sudah tua. Bisnis Mebel yang sudah berkembang di Jepara tidak selamanya kami yang ngurus.

“Sedang istrimu anak kami satu-satunya. Mau tidak mau Mas Fauzan yang akan melanjutkan industri mebel di Jepara.”

Tapi jangan kuatir. Kami tahu kesibukan Mas Fauzan disini mengabdi di Pesantren.

Kami berencana membeli sebidang tanah di sekitar pesantren ini dan memindahkan usaha kami disini. Sehingga Mas Fauzan tetap bisa mengendalikan perusahaan sambil mengajar.

Mendengar tuturan bapak mertuanya, mata Fauzan berkaca-kaca. Terdengar dering SMS dari handphone polyphonicnya. Pengirimnya Gus Juned. SMS tersebut bertuliskan ayat 2-3 dari surat Ath-Thalaq :

“Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

” Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya akan diberikannya jalan keluar (dari segala perkara yang menyusahkannya).

Dan diberikanya rezeki dari sumber yang tidak disangka-sangka.

Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka baginya kecukupan. Sesungguhnya Allah tetap melakukan segala yang di kehendaki-Nya. Allah telah pun menentukan kadar dan masa bagi berlakunya tiap-tiap sesuatu.”

Ayat ini familiar di kalangan kaum muslim dengan julukan “Ayat Seribu Dinar”.

Semoga Allah SWT mencurahkan Hidayah-Nya kepada kita semua untuk selalu bertaqwa kepada-Nya dan menjemput keluasan rezeki-Nya untuk menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Allahumma aamiin.

(Al-Faqir Zia Muthi Amrullah)***

Kategori: Kisah InspiratifTag: