Tinggalkan Tugas Rumah Tangga Demi Ikuti PMTL

0 125

Cinta tampaknya memang harus diwujudkan dengan pengorbanan. Tak terkecuali cinta terhadap Alquran. Hal ini dialami juga oleh santriwati Jam’iyah Tilawatil Quran Provinsi Jatim (Jatiqo Jatim) yang satu ini, yakni Nor Azizah.

Ibu dari seorang anak yang dilahirkan di Sampang, 5 Mei 1975 ini banyak berkorban demi mengikuti pelajaran atau Program Murattal Tujuh Lagu yang dilaksanakan Jatiqo Jatim. Di antaranya yang paling terasa adalah mengorbankan pekerjaaan rumah tangganya sehari-hari, seperti bersih-bersih rumah, mencuci pakaian dan peralatan rumah tangga, dan sebagainya.

Namun demikian bukan berarti ia meninggalkan begitu saja pekerjaan tersebut. Semua atas persetujuan suami dan anak tercintanya. “Suami saya rela menggantikan pekerjaan saya, agar saya bisa fokus mendalami Murattal Tujuh Lagu ini. Di samping itu, anak saya yang juga sudah lulus SLTA, juga tidak banyak merepotkan saya. Malah banyak juga membantu pekerjaan rumah tangga. Alhamdulillah, suami dan anak saya sama-sama mendukung,” kata Bu Nur, sapaan akrabnya.

Ada perasaan bersalah dalam benaknya. Namun, karena sudah jatuh cinta sama Alquran dan mendapat restu dari suami dan anak, maka saya harus merelakannya. “Dan belajar lagu ini butuh waktu yang tidak sedikit. Kadang-kadang sehabis salat Dhuha, begitu belajar, tahu-tahu sudah waktunya zuhur. Waktu terasa sangat cepat, sementara belum banyak lagu yang bisa saya kuasai,” aku Bu Nur, yang kini tinggal di Kandangan Jaya Surabaya itu.

Bu Nur yang merupakan lulusan keempat Program Murattal Tujuh Lagu (PMTL) Jatiqo/JTQ Jatim ini mengaku mulai belajar Alquran dari usia dini, dengan mengikuti pelajaran yang diasuh oleh sang sendiri di kampungnya.

Tidak seperti umumnya belajar mengaji di kampung-kampung, Bu Nur sejak awal sudah diajari mengaji dengan baik dan benar. Mulai dari makhorijul huruf, tajwid, kerataan mad, dan sebagainya, sudah dipraktikkan dengan baik dan benar. Sehingga ketika mengikuti PMTL, tidaklah mengalami kesulitan yang berarti.

Sang ayah sangat ketat dalam mendidik, terutama soal agama, meski dalam keadaan sakit, kalau tidak terlalu parah, ia dipaksa untuk selalu mengaji. “Bahkan orang tua saya lebih ketat pada pelajaran agama daripada pelajaran umum,” kata Bu Nur.

Malahan, sampai sekarang, sang ayah selalu menanyakan soal mengajinya. Kadang-kadang di tengah malam, Bu Nur sering ditelpon sang ayah, hanya menanyakan soal mengajinya. Dikatakan Bu Nur, Sang ayah juga sangat senang dirinya bisa mengaji dengan menguasai bermacam-macam lagu. “Ngajimu sekarang kok enak lagunya,” kata Bu Nur menirukan sang ayah, saat pertama kali ia mulai menguasai lagu.

Bu Nur mulai mengikuti mengaji di Jatiqo/JTQ Jatim tahun 2011. Saat itu, kata dia, masih belum menerapkan tujuh lagu. Tapi mengaji secara klasikal dengan membaca Alquran bergantian. Baru beberapa bulan kemudian, mulai menerapkan murattal tujuh lagu.

Awalnya, diakui Bu Nur, cukup menakutkan. Apakah bisa menguasai tujuh lagu yang begitu banyak. Namun di antara perasaan takut dan khawatir itu, ada tantangan dan ketertarikan, sehingga ia semakin semangat ingin mendalami lagu-lagu Alquran.

Akhirnya, dengan segala kekuatannya, ia terus dan terus belajar. Bahkan saking semangatnya sering sampai lupa segalanya. Untungnya, sekali lagi, suami dan anaknya saling mendukung. Dengan kegigihannya itu, Bu Nur pun akhirnya bisa masuk kategori 10 lulusan pertama program PMTL Jatiqo/JTQ Jatim.

Bu Nur yang mengikuti PMTL di kelompok Masjid Hidayatullah, Kandangan ini, sampai sekarang masih tetap mengaji. Setelah mengkhatamkan riwayat Hafsh Imam Ashim, kini ia sudah masuk ke Riwayat Qalun Imam Nafi’ dan menginjak pada juz 12.

Di rumahnya, kini ia aktif mengajar ngaji bagi ibu-ibu dan anak-anak, selain juga mengajar di TPA/TPQ di kampungnya. (Choirul Anam)

Kategori: Profil SantriTag: