Berebut Berkah Lailatul Qodar

0 39

Nabi SAW memberi teladan pada kita, bahwa dalam mencari berkah Lailatul Qadr adalah dengan meningkatkan amalan di sepuluh malam terakhir Ramadan dengan i‘tikaf (diam di masjid untuk beribadah), salat sunnat dan berdoa (allaahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa‘fu ‘annii / yaa Allah, sungguh  Engkau Maha Pemaaf dan suka memaafkan, maka maafkanlah aku). Beliau juga mengajak segenap keluarga melakukan hal yang sama, bahkan di saat-saat demikian beliau tidak mengumpuli isteri.

 

Hampir semua muballigh (juru da’wah) memotivasi ummat dengan memaknai kalimat “seribu bulan” ini secara harfiah dan matematis, yang berarti sepadan dengan 83 tahun lebih, sehingga andai seseorang shalat pada malam Lailatul Qadr, maka pahalanya sepadan dengan shalat selama 83 tahun lebih. Uraian demikian biasanya menarik, namun ada sisi lemahnya, pertama: karena kata “seribu bulan” dalam ayat tersebut sesungguhnya bersifat majaziy (metaforis) yang bermaksud menyangatkan dan bukan hitungan matematis; apalagi didahului dengan kata khairun (lebih baik), maka nilai berkah malam itu tidak sebatas seribu bulan secara matematis, melainkan tak terhingga dan tak berbatas (terserah perkenan Allah SWT saja), kedua: memotivasi ummat dengan besaran pahala tidak selalu positif karena dapat menimbulkan mental profit oriented dan mengurangi jiwa pengabdian, akibatnya bisa terjadi seseorang hanya bersemangat beribadah di malam Lailatul Qadr dan drop di malam-malam yang lain.

 

Surat al-Qadr ditutup dengan kalimat hiya hattaa mathla‘il fajr (dia / Lailatul Qadr itu berlangsung sampai terbit fajar). Persoalan yang muncul adalah fajarnya negeri mana ? Kalaupun di Surabaya sudah terbit fajar tetapi di Medan kan belum, apalagi di Makkah. Apakah Lailatul Qadr itu berjalan mengikuti putaran malam, kalau begitu apa para malaikat juga begitu ? Bila demikian, bagaimana seandainya kita naik pesawat concord sehingga dapat terus mendapatkan malam hampir tanpa terbitnya fajar ? Yang perlu disadari adalah bahwa Lailatul Qadr itu bukan sesuatu yang fisik-rasionil, melainkan masalah metafisik-spirituil, sehingga meresponnya-pun tidak bisa dengan persepsi nalar-formal. Taruhlah kita naik concord dan bisa menghindari cepat terbitnya fajar, tapi tahukah kita bahwa malam itu malam Lailatul Qadr ? Kalaupun tahu, pastikah yang ketemu malam itu mesti mendapat berkahnya Lailatul Qadr ? Pemahaman yang mendekati kemungkinan benar adalah bahwa berkah Lailatul Qadr itu diturunkan Allah SWT di bumi secara menyeluruh.

 

Namun peluang untuk mendapatkan berkahnya bagi tiap hamba hanya diberikan sampai batas terbitnya fajar di mana dia tinggal. Inipun tidak semua hamba yang menemukannya berarti mendapat berkahnya, tergantung track record amaliahnya selama ini apa dapat menyebabkan Allah SWT berkenan memberikan berkah Lailatul Qadr ataupun tidak. Sebab kalau semua orang yang menemukannya berarti juga mendapat berkahnya, tentu tidak adil rasanya kalau ada orang yang sejak awal Ramadan telah mengintensifkan amal baiknya mendapat berkah yang sama dengan mereka yang hanya nyegat Lailatul Qadr. Jika demikian, apakah pencuri, pezina dan penjahat lain juga mendapatkannya, sebab semua orang pasti bertemu/dilewati malam Lailatul Qadr**

 

Oleh: Ahmad Zahro

Kategori: RamadhanTag: