Tujuh Puluh Musim

0 131

Ibadah puasa adalah ibadah yang dikerjakan dengan berlapar dan berdahaga sepanjang hari yaitu sejak terbitnya fajar sodiq (masuk waktu Subuh) hingga terbenamnya matahari (masuk waktu Maghrib).

Antara hikmah dan faedah ibadah puasa ialah menginsafkan diri bahwa kita pada hakikatnya adalah makhluk yang lemah yang perlu sentiasa menghampirkan diri dan beribadah kepada Allah Swt serta mengharapkan limpahan karunia-Nya. “Tidaklah seorang hamba yang berpuasa di jalan Allah kecuali akan Allah jauhkan dia (karena puasanya) dari neraka sejauh tujuh puluh musim.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Maksud sabda Rasulullah ‘70 musim’ adalah perjalanan 70 tahun. “Salat lima waktu, dari Jumat (yang satu) menuju Jumat berikutnya, (dari) Ramadan hingga Ramadan (berikutnya) adalah penghapus dosa di antaranya, apabila ditinggalkan dosa-dosa besar.” (HR. Muslim)

Tanda bersyukur kepada Allah SWT atas limpah karunia dan nikmatNya yang tidak terhingga, juga mendidik nafsu ammarah (yang lebih banyak mengajak kepada keburukan) agar berubah menjadi nafsu lawwamah (mengajak kebaikan) dan seterusnya meningkat kepada nafsu mutmainnah yakni nafsu yang tenang tenteram, bersedia menjunjung titah perintah Allah Swt.

Melatih dan mendidik jiwa supaya mempunyai sifat belas kasihan terhadap orang-orang yang susah menderita dan kurang bernasib baik dalam kehidupan mereka. Membersihkan diri daripada sifat-sifat mazmumah (keji) seperti tamak, sombong, hasad dengki dan sifat-sifat yang Allah tidak senangi.

Mendidik jiwa supaya bersifat sabar, tahan menanggung kesusahan dan pelbagai cobaan dalam menempuh perjuangan hidup. Muslim yang benar-benar bersungguh-sungguh dalam berpuasa akan terbuka akal dan fikirannya, lebih peka terhadap sesama dan Insya Allah akan jarang mengeluh lagi dalam kehidupannya. Karena ketika kita berpuasa maka akan terasa betapa beratnya kehidupan saudara-saudara kita yang lain, dimana mereka merasakan kelaparan bukan hanya dalam bulan puasa tapi setiap hari dalam kehidupan mereka.

Memperoleh kecerdasan akal dan fikiran sebagaimana disebut dalam satu riwayat maksudnya: “Orang yang lapar perutnya itu tajamlah fikirannya dan teranglah hatinya”. Dalam berpuasa pun kita dilatih untuk jujur terhadap diri kita sendiri, karena dalam ibadah lain kita senantiasa melakukannya dengan berjamaah maka dalam berpuasa hanya ada antara kita dan Allah, oleh karena itu Rasulullah meriwayatkan dalam Hadits Qudsi.

Semua amalan bani adam adalah untuknya kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya, dan puasa adalah perisai, jika salah seorang dari kalian berpuasa maka janganlah ia berkata keji dan berteriak-teriak. Jika ada orang yang mencacinya atau mengajaknya berkelahi maka hendaklah ia mengatakan, ’sesungguhnya aku sedang berpuasa”. (HR. Bukhari dan Muslim).**

Oleh : Choirul Anam Djabar

Kategori: Artikel, RamadhanTag: