Puasa Penguat Kesadaran

0 97

Bagi orang-orang yang beriman, puasa Ramadan sangat dinantikan, karena ada banyak pelajaran yang sangat berharga di dalamnya untuk proses penyadaran diri, lebih-lebih masih sering kita jumpai berbagai bentuk aktivitas kehidupan yang justru mematikan kesadaran diri, yang serba bebas tanpa batas untuk pemuasan nafsunya. Secara bahasa puasa berasal dari kata al-shiyâm, al-shaum, berarti menahan.

Hal ini mengisyaratkan bahwa sejatinya kita sangat berkemampuan untuk melakukan berbagai aktivitas tersebut, namun sebagai orang yang beriman mampu untuk menahannya untuk tidak dilakukan karena agama melarangnya. Inilah sejatinya prestasi kehidupan yang mampu mengendalikan dorongan nafsunya, ketika ada banyak peluang untuk suksesnya aksi kejahatan namun tidak dilakukan, karena menyadari bahwa dalam berbagai aktivitas kehidupan perlu adanya semangat untuk menahan dari berbagai bentuk yang dapat merugikan baik diri sendiri maupun pada orang lain, dan apa jadinya kehidupan ini jika manusia terus melakukan tindakan pengrusakan tanpa ada sedikitpun untuk menahannya, sehinggga kerusuhan dan kekerasan akan menjadi panglima dalam kehidupannya.

Ramadan merupakan bulan ke-9 dari perhitungan tahun hijrah, yang secara bahasa berarti membakar, sangat panas, hal ini menunjukkan bahwa pada bulan ke-9 itu suasana di padang pasir sangat panas oleh teriknya sinar matahari, sehingga dibutuhkan kesabaran yang prima dalam berpuasa agar tidak mudah terpengaruh serta terprovokasi oleh berbagai bentuk yang dapat mengurangi kekhidmatan ibadah puasa romadhan.

Dalam tafsir Fi Dzilalil Quran, Sayyid Qutb menyatakan, puasa merupakan sarana untuk memantapkan aqidah  yang kokoh dan teguh, dan sarana hubungan manusia dengan Tuhannya yang berupa hubungan ketaatan dan kepatuhan, sebagaimana ia juga merupakan sarana ketinggian melebihi kebutuhan fisik belaka, dan ketabahan untuk memikul tekanan dan bebannya, demi mengutamakan keridhoaan dan kesenangan disisi Allah. Kondisi romadhan yang panas dan membakar itu merupakan tantangan, dan mampukah kita menjadi hamba-Nya yang sukses membakar berbagai bentuk nafsu kerendahan dan keserakahan, yang akhir-akhir ini semakin menggurita dan merajalela untuk suksesnya pemuasan nafsu jahatnya.

Puasa Ramadan yang diwajib bagi orang beriman agar meraih takwa (QS:2:183), dan berpuasa itu lebih baik bagimu (QS:2:184), semakin menyadarkan kepada kita, bahwa perintah puasa ini bukan sekedar  perintah saja tetapi benar-benar berdampak yang luar biasa untuk perbaikan tatanan di berbagai aktvitas kehidupan kita. Sungguh memprihatinkan ketika para elite bangsa sibuk untuk memperkaya diri sendiri, dengan melakukan  kebohongan publik, penggarongan anggaran Negara dan menelantarkan kemiskinan serta jauhnya rasa keadilan untuk bisa ditegakkan ketika berbagai kepentingan saling terkait di dalamnya.

Terjadinya pembiaran atas berbagai aksi kejahatan bahkan cenderung bersekongkol untuk meraih keuntungan yang besar, sungguh memalukan aksi kejahatan ini. Ketika bangsa sedang membutuhkan sosok yang yang berkompeten, unggul dan penuh dedikasi untuk memberikan kontribusi sebagai upaya perbaikan bangsa, ternyata para generasi mudanya terbawa arus tsunami kejahatan yang merusak tatanan kehidupan berbangsa.

Momentum puasa Ramadan yang berbarengan dengan perayaan kemerdekan Republik Indonesia ke-66 tahun ini, benar-benar sangat berharga bagi mereka yang sudah memiliki kesadaran  dan peduli dengan kehidupan berbangsa, karena kita tidak ingin keterpurukan ini semakin menyengsarakan, dan melalui puasa romadhan sejatinya kita mampu untuk melakukan perubahan pada kebaikan. Sebagaimana Sabda Rosulullah Muhammad SAW: Barangsiapa berpuasa dibulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu (HR.Bukhari dan Muslim).

Hal ini mengisyarakan bahwa ada banyak kesalahan dan pelanggaran sehingga berbuah dosa atas apa yang selama ini kita lakukan, dan kondisi itu akan diampuni oleh-Nya manakala kita berpuasa secara benar bukan hanya sekedar menahan dari rasa lapar dan dahaga, tetapi mampu menahan berbagai amarah kejahatan, kemungkaran dan kemaksiatan yang selama ini mudah terperagakan.

Menilik sejarah Rasulullah Muhammad Saw ketika menjalankan puasa Ramadan dan itu bisa kita jadikan media untuk proses penyadaran diri agar menjadi manusia yang berbudi, maka ada beberapa hal terkait puasa Romadhan, yaitu pertama, puasa Ramadan adalah bulan Tarbiyah (Pendidikan) baik untuk perbaikan jasmani maupun rohani, untuk ditempa menjadi pribadi  yang unggul dan berkualitas yang mampu merasakan beratnya beban penderitaan akibat kemiskinan, serta ber-tadarus Alquran dan qiyamul lail akan semakin mendekatkan diri pada-Nya dalam proses kesempurnaan kesadaran, sehingga tahu akan tugas kehidupannya.

Kedua, puasa Ramadan adalah bulan perjuangan untuk meraih kemenangan, sejarah telah membuktikan bagaimana Rasulullah meraih kemenangan yang besar dalam perang Badar yang tidak seimbang antara kekuatan muslim dan kafir, tetapi karena ada kesungguhan dan strategi yang matang sehingga meraih kemenangan, hal ini menunjukkan adanya kualitas diri yang sempurna yang tidak mudah dirayu dan disuap oleh harta, wanita dan tahta. Puasa membawa energy besar untuk perubahan pada perbaikan, dan puasa bukanlah simbol kemalasan yang cenderung pasif dan tidak produktif tetapi puasa benar-benar suatu gerakan perubahan.

Ketiga, puasa Ramadan adalah bulan untuk membangun kepedulian, kebersamaan dan persaudaraan. Sebagaimana nasihat Rasulullah Saw, bahwa sedekah yang paling mulia adalah sedekah dibulan Ramadhan (HR.Tirmidzi), sehingga orang beriman yang konsisten dengan puasanya akan selalu memberikan yang terbaik lebih-lebih di bulan suci Ramadan ini, apapun profesi dan jabatan akan selalu diabadikan dengan berbagai bentuk kebaikan, meski terasa berat dan penuh tantangan dan godaan tidak menyurutkan usahanya untuk senantiasa merajut persaudaraan. Untuk itu upaya menyempurnakan ibadah puasa ini sesungguhnya tugas kita semua sehingga puasa kita ini benar-benar bermakna untuk perbaikan kehidupan.

Puasa Ramadan merupakan perisai yang tangguh dari berbagai serangan yang sering menghantam, karena dalam puasa ada kesabaran, ketulusan dan keberanian sekaligus menyingkirkan berbagai bentuk kerendahan yang memalukan. Puasa Ramadan mampu menjungkirbalikkan berbagai bentuk arogansi yang hingga kini masih sering mendominasi, karena pada puasa ada kesadaran yang sejati bukan imitasi yang saat ini mudah sekali ditampilkan dengan penuh pesona padahal menghanyutkan. Puasa Ramadan akan membawa pada kesadaran kemanusiaan yang toleran dan bertanggung jawab,  bukannya menebar sifat kerendahan kebinatangan yang menghancurkan norma dan etika.

Puasa Ramadan mampu meredam aksi keserakahan, yang  bukan hak dan kewenangannya dilumat habis untuk suksesnya aksi kerakusan. Puasa Ramadhan menjadikan diri lebih beradab karena mampu menerapkan nilai-nilai akhlaqul karimah dimasyarakat, ada kesantunan, kepatutan, kemuliaan dan keluhuran pekerti, untuk merobohkan tindakan kesewenangan, kekerasan, kelicikan. Puasa Ramadan akan semakin bermakna manakala kita selepas Ramadan masih konsisten dengan nilai-nilai dasar puasa dan hikmah Ramadan yang ada, sehingga puasa kita seakan puasa sepanjang masa sebagai bentuk konsistensi dalam mewujudkan kesadaran diri sebagai pribadi yang bertakwa. ***

Oleh: Drs Andi Hariyadi M.Pd.I

Kategori: Artikel, RamadhanTag: