Persiapan Menyambut Ramadan

0 86

Alhamdulillah, akhirnya kita bisa berjumpa lagi dengan bulan suci Ramadan. Perasaan suka-cita membahana dalam sanubari menyambut kedatangannya. Seperti tamu agung, Ramadan adalah ‘tamu’ yang selalu dinanti kedatangannya, bahkan dalam sebuah hadits disebutkan, jika sesorang mengetahui keutamaan yang ada dalam Ramadan, tentu ia akan mengharap setiap hari adalah Ramadan.

Meski agak terlambat, namun agaknya perlu diperhatikan, sebelum kita melangkah lebih jauh menyambut bulan turunnya Alquran ini. Kita perlu melakukan persiapan agar pelaksanaan puasa berlangsung khidmat dan penuh hikmah. Layaknya orang yang akan melangsungkan perjalanan ke suatu tempat, perlu menyiapkan bekal.

Persiapan pertama yang harus dilakukan adalah menyiapkan pengetahuan seputar syarat sah, sunnah-sunnah, dan hal-hal yang bisa membatalkan puasa. Ilmu menjadi penting sebagai syarat pertama, sebab seseorang diharapkan telah mengetahui jauh sebelum berucap dan beramal, termasuk dalam soal berpuasa. Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani menyebut empat penyebab lenyapnya satu demi satu ajaran agama, salah satunya karena, “Innakum Ta`maluuna bimaa laa ta`lamuun (Kalian mengamalkan sesuatu tanpa ilmu).”

Selain itu, menyiapkan jasmani yang prima akan melahirkan etos ibadah yang baik. Betul, bahwa kesehatan bukan segalanya tetapi dengan kesehatan kita bisa melakukan semua hal. Disebutkan dalam hadits, “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dari mukmin yang lemah.” Sekuat apa pun komitmen ibadah yang hendak kita tunaikan, kala kesehatan tidak dalam kondisi fit, semua itu hanya menjadi mimpi-mimpi belaka yang tak kunjung terwujud.

Kemudian persiapan batin. Yaitu membersihkan hati dan alam pikiran dari cabang-cabang penyakit hati, baik iri hari, dengki, dendam, sombong, suka pamer, gila pujian, dan sebagainya. Di Indonesia, kebiasaan yang berkembang selama ini ialah berziarah ke makam leluhur, anjang sana ke sanak-saudara atau handai taulan dengan harapan saat masuk Ramadan hati sudah dalam keadaan bersih dan siap secara total beribadah kepada Allah.

Persiapan berikutnya adalah menata akhlak. Dalam hal apa pun, akhlak menjadi urgen diperhatikan. Akhlak dalam Ramadan yang harus diperhatikan sejak dini adalah menjaga mata, telinga, kemaluan, lidah, dan anggota tubuh lainnya sehingga jangan sampai kita hanya puasa perut, puasa yang sekadar menahan makan dan minum, tapi kehilangan keutamaan-keutamaan Ramadan. Puasa sejati adalah berpuasa secara kolektif, puasa yang menggabungkan antara puasa perut, anggota tubuh, dan hati.**

Oleh : Choirul Anam Djabar

Kategori: Artikel, RamadhanTag: