Syaikh Yasin bin Isa Al-Faddani

Tidak ada komentar 4307 views
  1. Syaikh Yasin Al-Faddani Sosok yang Tawadhu’ dan Bersahaja

 

Meski dikenal sebagai seorang maha guru, Syaikh Yasin tetap bersikap tawadhu’ kepada siapa saja. Beliau tak segan untuk meminta ijazah dan ilmu dari para muridnya.

 

Syaikh Yasin juga sering berkunjung ke Indonesia, negeri asal nenek moyangnya. Dalam kunjungan beliau ke Indonesia beliau mengunjungi beberapa pondok pesantren antara lain di Jakarta, Padang, Palembang, Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, NTB, Kalimantan, Ambon dan Manado. Setiap pesantren yang beliau kunjungi selalu dipenuhi oleh jamaah dari berbagai kalangan, ulama, santri maupun masyarakat awam. Dalam setiap kesempatan beliau selalu menyampaikan hadits sekaligus mengijazahkannya. Oleh karena itu banyak ulama menemui Syaikh Yasin hanya karena ingin dianggap sebagai murid olehnya dan meminta ijazah hadits.

 

Hal yang menarik dari sosok Syaikh Yasin adalah, sekalipun beliau adalah seorang ulama tradisional namun beliau memiliki wawasan yang luas. Beliau berpandangan belajar dan mengajar bagi kaum wanita juga wajib sebagaimana yang telah disabdakan Baginda Nabi Saw. Ini terbukti dengan usahanya mendirikan beberapa lembaga pendidikan untuk kaum wanita.

 

Setelah sekian lama menanamkan cita-citanya untuk membangun madrasah putri, pada tahun 1362 H/1943 M beliau mendirikan lembaga pendidikan untuk kaum wanita yang dinamainya dengan Madrasah Ibtidaiyyah lil Banat. Lembaga pendidikan ini merupakan yang pertama di Arab Saudi yang didirikan khusus untuk kaum hawa. Setelah sekolah ibtidaiyah telah banyak dan membutuhkan tenaga pengajar, Syaikh Yasin memandang perlu mendirikan lembaga pencetak guru wanita. Maka pada bulan Rabi’ul Akhir tahun 1377 H beliau mendirikan Ma’had lil Mu’allimat.

 

Dalam surat kabar al-Bilad edisi Jum’at 24 Dzul Qa’dah 1379 H/1960 M, Syaikh Umar Abdul Jabbar, seorang ulama dan kolumnis menulis esai sebagai berikut: “Bahkan yang terbesar dari amal bakti Syaikh Yasin adalah membuka madrasah putri pada tahun 1362 H/1943 M. Inilah sekolah pertama perempuan yang didirikan di Negeri Kerajaan Arab Saudi. Dalam perjalananya selalu ada rintanagn, namun beliau dapat mengatasinya dengan penuh kesabaran dan ketabahan.”

 

Ketawadhu’an beliau juga terlihat sebagaimana diceritakan oleh murid beliau, Syaikh Mahmud bin Said Mamduh, bahwa karya Syaikh Yasin mengenai ushul fiqh, syarah al-Luma’ sebaganyak dua jilid yang tebal terpaksa tidak jadi dicetak lantaran guru beliau Syaikh Yahya Aman sudah terlebih dahulu mengirimkan naskah karyanya dalam hal yang sama ke percetakan. Tampaknya beliau berkaca pada kejadian sebelumnya, saat beliau mencetak kitab Hasyiyah at-Taisir karya beliau, yang ternyata karya serupa dibuat oleh guru beliau Syaikh Yahya Aman, yang akhirnya membuat karya Syaikh Yasin kurang dikenal.
Selanjutnya…..