Baca Alquran Selama 40 Hari Tanpa Henti Sampai Mulut Berdarah

G. WAFAT DAN PENERUS BELIAU

Sebagaimana manusia pada umumnya, K.H.M. Moenauwir menderita sakit selama 16 hari. Pada mulanya terasa ringan, namun lama-kelamaan semakin parah. Tiga hari terakhir saat beliau sakit, beliau tidak tidur.

Selama sakit, selalu berkumandanglah bacaan Surah Yasin 41 kali yang dilantunkan oleh rombongan-rombongan secara bergantian. Satu rombongan selesai membaca, maka rombongan lain menyusulnya, demikian tak ada putusnya.

Akhirnya, beliau, K.H.M. Moenauwir wafat Ba’da Jum’at tanggal 11 Jumadil Akhir tahun 1942 M. di kediaman beliau di komplek Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta. Di kala beliau menghembuskan nafas terakhir, ditunggui oleh seorang putri beliau, Nyai Jamalah, yakni ketika rombongan pembaca Surah Yasin belum hadir.

Sholat Jenazah dilaksanakan bergiliran lantaran banyaknya orang yang bertakziyyah. Imam shalat jenazah kala itu adalah K.H. Manshur (Popongan – Solo), K.H.R. Asnawi (Bendan – Kudus), dan besan beliau K.H. Ma’shum (Suditan – Lasem).

Beliau tidak dimakamkan di kompleks Pesantren Krapyak, melainkan di Pemakaman Dongkelan, yakni sekitar 2 km dari kompleks Pesantren. Dan sepanjang jalan itulah, terlihat Kaum Muslimin dari berbagai golongan penuh sesak mengiring dan bermaksud mengangkat jenazah beliau, sampai-sampai keranda jenazah beliau cukup ‘dioperkan’ dari tangan ke tangan yang lain, sampai di Pemakaman Dongkelan.

Jenazah K.H.M. Moenauwir dikebumikan di sana, dan selama lebih dari seminggu pusara beliau selalu penuh dengan penziarah dari berbagai daerah untuk membaca Al-Quran.

Beliau wafat meninggalkan Pesantren yang merupakan tonggak pemisah suasana. Suasana sebelum dibangun pesantren, Krapyak dikenal sebagai tempat rawan, penuh kegelapan, abangan dan sedikit yang menjalankan ajaran Islam. Bersamaan dengan didirikannya Pesantren, banyak pula usaha busuk dari golongan-golongan Klenik yang dengki dan selalu merintangi perintisan Pesantren.

Namun upaya-upaya itu musnah, dan suasana gelap beralih menjadi ramai dan meriah dengan alunan Ayat-ayat Suci Al-Quran dengan segala konsekuensinya.

Almarhum K.H.M. Moenauwir berwasiyat, agar keluarga melanjutkan perjuangan Pesantren, tepatnya kepada 2 orang putra dan 4 orang menantu. Akan tetapi karena beberapa udzur, perjuangan Pesantren dikawal secara langsung oleh 3 tokoh yang dikenal sebagai Tiga Serangkai;

(1)
K.H.R. Abdullah Affandi (putra beliau dari Nyai R.A. Mursyidah asal Kraton Yogyakarta). Di samping menangani pengajian Al-Quran, beliau juga mengurusi hubungan Pesantren dengan dunia luar. Beliau wafat pada 1 Januari 1968.

(2)
K.H.R. Abdul Qodir (putra beliau dari Nyai R.A. Mursyidah asal Kraton Yogyakarta). Pada tahun 1953, para santri penghafal al-Quran dikelompokkan menjadi satu dalam sebuah wadah, yakni Madrasatul Huffadz yang disponsori oleh K.H.R. Abdul Qodir, dibantu K.H. Mufid Mas’ud (menantu K.H.M. Moenauwir), Kyai Nawawi (menantu K.H.M. Moenauwir) dan Hasyim Yusuf dari Nganjuk. Ada 2 sistem yang ditempuh di Madrasatul Huffadz;

Pertama, adalah Sistem Perseorangan, yakni Kyai menurut kepada santri untuk menghafalkan suatu ayat, surat maupun juz.

Kedua, adalah Sistem Jama’ah Mudarosah, yakni seorang santri disuruh menghafal suatu ayat, surat atau juz, kemudian membacanya lantas berhenti dan dilanjutkan oleh santri yang lain, demikian sampai khatam 30 juz.

Untuk mentash-hih kembali hafalan santri-santri yang sudah khatam, maka diharuskan melakukan ‘Ardloh secara Musyafahah sampai tiga kali khatam. Untuk menguji kelancaran hafalan, adalah dengan dibacanya suatu ayat oleh Kyai dan santri disuruh melanjutkannya. Begitu pula ditanyakan kepada santri tentang letak ayat tersebut dalam surat apa, halaman berapa, bagian mana, lembar kiri atau kanan, ayat nomor berapa, sampai surat baru masih berapa ayat lagi.

Seperti itulah seluk beluk menghafalkan Al-Quran di Madrasatul Huffadz saat itu. Setelah hafal seluruh Al-Quran, maka selama 41 hari dilanjutkan Mudarosah (nderes) dengan mengkhatamkan 41 kali juga.
K.H.R. Abdul Qodir wafat pada 2 Februari 1961

(3)
K.H. ‘Ali Ma’shum (menantu beliau asal Lasem, suami dari Nyai Hj. Hasyimah). Beliau sudah turut mengasuh Pesantren sejak 1943, beliau adalah perintis dan pengasuh pengajian Kitab-kitab selepas K.H.M. Moenauwir wafat, yakni sejak kepulangan beliau dari Tanah Suci dalam rangka menimba ilmu. Dalam penyelenggarannya, beliau menerapkan beberapa sistem, yakni Sistem Madrasi (Klasik) dan Sistem Kuliyah, yang masing-masing dilengkapi dengan Pengajian Sorogan (individual).

Adapun Pengajian Sorogan ini, beliau berlakukan dengan model Semi-Otodidak, yakni dengan ditentukannya suatu kitab oleh K.H. ‘Ali Ma’shum untuk dikaji seorang santri. Tiap sore hari, santri tersebut harus menghadap beliau untuk membaca kitab. Dalam hal ini, santri harus berusaha mempelajarinya sendiri, baik dalam cara membaca maupun menela’ah maknanya, baik dengan bertanya maupun berdiskusi dengan rekan dan kitab yang sudah ada maknanya.

Sedangkan K.H. ‘Ali Ma’shum cukup menyimak bacaan santri sambil mengajukan beberapa pertanyaan, dan membenarkan jika ada kesalahan membaca maupun memahami isinya. Dengan sistem ini, beliau maupun santri telah banyak menghemat waktu serta membuahkan hasil yang memuaskan lagi cermat.
K.H. ‘Ali Ma’shum wafat pada 1989.

Demikianlah estafet kepemimpinan Pesantren terus bergulir, semakin berkembang seiring bertambahnya usia, baik dalam metode maupun corak Pesantren, namun tak lepas dari sentuhan khas salafiyahnya.

Dan tentunya, tetap berkonsentrasi pada misi awal yang dirintis Sang Muassis (Pendiri), yakni membumikan Al-Quran, memasyarakatkan Al-Quran dan meng-al-Quran-kan masyarakat.

Tahun depan, yakni tahun 2011, tepatnya 11 Jumadil Akhiroh 1432 H., insyaAllah akan digelar hajatan besar, berupa Gelaran Satu Abad Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, sekaligus memperingati Haul al-Marhum al-Maghfurlah Syaikhuna K.H.M. Moenauwir Sang Maestro Al-Quran Nusantara.

Rabu, 15 Ramadhan 1431 / 25 Agustus 2010
Krapyak, Yogyakarta