Baca Alquran Selama 40 Hari Tanpa Henti Sampai Mulut Berdarah

E. KAROMAH

    1. K.H. Abdullah Anshor (Gerjen – Sleman) mengetahui beliau wafat, maka menangislah ia, serta mengatakan tak kerasan lagi hidup di dunia tanpa beliau. Setelah pulang ke rumah, K.H. Abdullah langsung menyusul pulang ke Rahmatullah.
    2. Kyai Aqil Sirodj (Kempek – Cirebon) di kala masih berusia sekitar 8 tahun belum bisa mengucap dengan jelas bunyi “R”. Namun setelah minum air bekas cucian tangan beliau, langsung dapat membaca “R” dengan jelas.
    3. Kala mengajar, biasanya beliau sambil tiduran, bahkan kadang benar-benar tertidur. Namun bila ada santri yang keliru membaca, beliau langsung bangun dan mengingatkannya.
    4. Saat baru berusia 10 tahun, beliau berangkat mondok kepada K.H. Cholil di Bangkalan, Madura. Sampai di sana, saat akan dikumandangkan iqomah, K.H. Cholil tidak berkenan menjadi imam shalat seraya berkata; “Mestinya yang berhak menjadi imam shalat adalah anak ini (yakni K.H.M. Moenauwir), walaupun ia masih kecil, tetapi ahli qiro’ah.”
    5. Sewaktu awal di tanah suci, beliau mengirimkan surat kepada ayahnya, menyatakan niat untuk menghapalkan al-Quran. Namun ayah beliau belum memperkenankannya, sehingga berniat mengirimkan surat balasan. Namun, belum sempat mengirimkan surat balasan, sang Ayah sudah mendapat surat kedua dari putranya yang menyatakan bahwa ia sudah terlanjur hapal. Dihapalkannya dalam waktu 70 hari (keterangan lain menyatakan 40 hari).
    6. Dan banyak lagi.

F. MAQOLAH

  1. Sebuah Hadits Riwayat Abi Hurairah bahwa Nabi Muhammad saw., bersabda; “Yaa Aba Hurairah, pelajarilah Al-Quran dan ajarkanlah kepada orang lain. Tetaplah engkau seperti itu hingga mati. Sesungguhnya jikalau kamu mati dalam keadaan seperti itu, malaikat berhaji ke kuburmu sebagaimana kaum Mukminin berhaji ke Baitullah al-Haram.”
  2. Sebuah sya’ir; “Semua ilmu termuat di dalam Al-Quran – Hanya saja orang-orang tak mampu memahami seluruh kandungannya.”
  3. “Jikalau engkau bermaksud akan sesuatu, maka bacalah Surah Yasin.”
  4. “Kalau mengaji Al-Quran, maka kajilah sampai khatam, supaya menjadi orang mulya.”
  5. “Waktu luang yang tidak digunakan untuk nderes Al-Quran adalah kerugian yang besar.”
  6. “Setelah seseorang hafal Al-Quran, maka haruslah ia TIDAK suka omong kosong dan TIDAK menghabiskan waktunya hanya untuk bekerja mencari dunia.”
  7. “Wahai putera dan menantuku yang mempunyai tanggungan al-Quran, apabila kalian belum lancar benar, maka jangan sampai merangkap apapun, baik berdagang ataupun lainnya.”
  8. “Orang hafal Al-Quran berkewajiban memeliharanya, maka dari itu jangan melakukan hal-hal -termasuk menuntut ilmu- yang tidak fardhu, sekiranya dapat menyebabkan hafalannya hilang.”
  9. “Kalau kamu tidak mengaji Qiro’ah Sab’ah kepadaku, maka mengajilah kepada Arwani Amin Kudus.”

10.  “Buah Al-Quran adalah kebahagiaan dunia dan akhirat.”

11.  Beliau berkata kepada K.H. Basyir; “Marilah uzlah seperti saya, guna mengajarkan al-Quran. Kalau kita memikirkan harta dunia, maka akan binasalah Al-Quran nanti.”

12.  Beliau berkata kepada putri beliau, Nyai Hindun; “Orang hafal Al-Quran, mengamalkan isi kitab Majmu’ dan Mudzakarot, insyaAllah menjadi orang shalihah.”

13.  Beliau tidak mengijinkan santri-santrinya menjadi Pegawai Negeri Pemerintah Penjajah pada waktu itu.

14.  Beliau menyampaikan apa yang pernah diterima dari guru beliau, K.H. Cholil Bangkalan; “Apabila hidayah tiba, permusuhan pun musnah. Jadilah engkau bagaikan Air, dibutuhkan oleh siapa dan apa saja. Jika tidak begitu, maka jadilah seperti Batu, tidak ada bahaya maupun manfaat (secara aktif –red).  Janganlah engkau laksana Kalajengking, siapa melihat maka ia pun takut.”

15.  “Seyogyanya engkau hadiahkan berkah Surah al-Fatihah kepada segenap kaum Muslimin yang masih hidup, lebih-lebih diwaktu tertimpa marabahaya atau berperangai buruk, barangkali dapat menjadi obatnya. Sebagaimana guru saya K.H. Cholil pernah mengajarkan; (di nomor 16)

16.  Beliau menyampaikan apa yang disampaikan guru beliau, K.H. Cholil; “Teman-teman sekalian, jikalau engkau menghadiahkan berkah surat al-Fatihah jangan hanya kepada Muslimin yang sudah meninggal saja, tetapi juga yang masih hidup. Syukurlah jika kepadaku juga. Sebab Nabi Muhammad saw. pernah bersabda; ‘UDDA NAFSAKA MIN AHLIL QUBUUR (anggaplah dirimu termasuk ahli Qubur).”

17.  “Apabila engkau memohon kepada Allah, maka mohonlah Kesejahteraan (‘Aafiyah).”

18.  “Kelak di akhir jaman, Shin akan menguasai seluruh daerah.”

19.  Sebuah sya’ir; “Aku tak bisa mendapatkan kembali apa yang telah meninggalkan diriku, baik dengan LAHFA (kalau), dengan LAYTA (seandainya), ataupun dengan LAW-INNI (andaikan saya).”

20.  “Selama saya masih hidup, puteraku yang lelaki selalu saya suruh memakai kopyah. Sedangkan yang perempuan segera saya carikan jodoh, tak usah menunggu orang lain yang datang melamarnya.”

Selanjutnya…